Perbanyak Amal Ibadah

Lima Penyebab Sû'ul Khâtimah Menurut Imam Al-Haddad

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


  ALLAMAH  Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddâd menuturkan bahwa terdapat lima golongan orang yang dikhawatirkan meninggal dalam keadaan sûul khâtimah (penutupan yang buruk) yaitu:

 قَالُوْا: وَأَكْثَرُ مَنْ يُخْشَى عَلَيْهِ سُوْءُ اْلخَاتِمَةِ وَاْلعِيَاذُ بِاللّٰهِ اَلْمُتَهَاوِنُ بِالصَّلاَةِ، وَاْلمُدْمِنُ لِشِرْبِ الخَمْرِ والعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالَّذِي يُؤْذِي اْلمُسْلِمِيْنَ وَكَذَالِكَ المُصِرُّوْنَ عَلَى اْلكَبَائِرِ وَاْلمَوْبِقَاتِ اَلَّذِيْنَ لَمْ يَتُوْبُوْا اِلَى اللّٰهِ مِنْهَا.

Para ulama berkata: Yang paling dikhawatirkan akan beroleh sûul khâtimah adalah orang-orang yang melalaikan shalat; minuman keras; durhaka kepada kedua orang tua,  menzhalimi muslim lainnya; dan terus-menerus melakukan perbuatan dosa besar, berbagai kekejian dan tidak mau bertaubat. (Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr, 56).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat lima perkara yang dikhawatir para ulama memperoleh penutupan yang buruk yaitu:

1.    Melalaikan Shalat

Tidak dinafikan bahwasanya ibadah shalat merupakan ibadah yang menjadi pembeda antara muslim dan kafir. Seorang muslim yang senantiasa menegakkan ibadah ini adalah muslim yang menjaga hubungannya dengan Allah swt. Karena ketika shalat seorang muslim sedang berdialog dengan Allah Subhanallah Waatala. Selain itu, ibadah shalat adalah ibadah yang pertama ditanya di akhirat kelak, apabila shalatnya bagus maka ibadah lain akan ikut bagus.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

  أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإنْ صَلُحَتْ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ، وَإنْ فَسَدَتْ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ. 
Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. (HR. Tirmizi).

Sebagaimana yang telah jamak diketahui ibadah shalat merupakan tiang agama, ketika seseorang meremehkan atau bahkan sampai meninggalkan dengan sengaja, sama halnya ia sedang meruntuhkan agama.

2.Minum Khamar/Alkohol

Minuman keras atau khamar salah satu minuman yang diharamkan Islam. Disamping banyak mendatangkan mudharat bagi kesehatan, khamar atau sejenisnya termasuk benda-benda najis.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٩٠

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (QS. Al-Māâdah[6]: 90).

Imam An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama mazhab Syafi’iyah berkata: Menurut kami khamr itu najis. (Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, 2/563)/.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamar, setiap yang memabukkan haram. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebut, orang yang minum, menuangkan, menjual, membeli, memerasnya, mengambil hasil perasan, mengantarkan (kurir) dan minta untuk diantar mendapat laknat dari Allah swt.  

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Allah Subhanahu Waatala melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan. (HR. Abu Daud)

3.Durhaka kepada Orang Tua

Durhaka kepada orang tua adalah termasuk dosa besar seperti dosa syirik, membunuh dan memberikan kesaksian palsu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الكَبَائِرِ قَالَ: «الإِشْرَاكُ بِاللّٰهُ وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ»

Dari Anas ra berkata, Rasulullah pernah ditanya tentang dosa-dosa besar. Beliau menjawab: Menyukutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh seseorang dan kesaksian palsu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah Subhanahu Waatala mengingatkan hamba-Nya untuk tetap berkata lemah lembuh kepada orang tua. Seorang anak tidak dibenarkan mengucapkan kalimah ah kepada orang tuanya, apalagi menghardiknya. Sekadar mengucapkan kata ah (atau kata-kata kasar lainnya) kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama, apalagi memperlakukan mereka dengan lebih kasar.

4.Perbuatan Zhalim

Menyakiti atau menzhalimi orang muslim perkara yang dapat menyebabkan sûul khâtimah. Sebab kezhaliman perbuatan yang dibenci Allah Subhanahu Waatala.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

قَالَ: يَاعِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

Dia subhanahu wa ta’ala berfirman: ”Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Akupun jadikan kezhaliman itu diantara kalian sebagai sesuatu yang haram. Maka janganlah kalian saling menzhalimi. (HR. Muslim).

Imam Ibnu Katsir berkata: Adapun kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah adalah kezaliman manusia atas manusia lainnya hingga mereka menyelesaikan urusannya. (Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, 4/100)

5.Terus Menerus Melakukan Dosa

Orang yang tidak bisa lepas dari perbuatan dosa akan sulit mendapatkan husnul khatimah. Karena seseorang meninggal sesuai kebiasaannya. Jika kebiasaan seorang melakukan amal kebaikan, maka besar kemungkinan akan meninggal dalam keadaan beramal shaleh, apabila sebaliknya kebiasaan melakukan kemaksiatan maka kecil kemungkinan meninggalnya dalam keadaan beramal shaleh.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan mereka tidak terus-menerus melakukan perbuatan dosa yang telah mereka kerjakan, sedang mereka mengetahui. (QS. Âli 'Imrân [3]: 135)

Ayat ini menunjukkan bahwa ciri orang bertakwa bukan tidak pernah berbuat dosa, melainkan tidak terus-menerus (يُصِرُّوا) melakukannya dan segera bertobat kepada Allah. Seseorang yang hidup atas sesuatu meninggal dan dibangkitkan atas hal itu. (Abu Bakar Jabir al-Jazâiri, Tafsîr al-Aliyyi al-Kabîr, hlm 327).

Berdasarkan penjelasan Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga shalat, menjauhi khamar, berbakti kepada kedua orang tua, menghindari segala bentuk kezaliman, serta tidak terus-menerus. Dan melakukan dosa tanpa bertobat, karena lima perkara tersebut termasuk sebab yang paling dikhawatirkan dapat mengantarkan seseorang kepada sû'ul khâtimah.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar